Benci
Hancur, hancur tak berbekas
Tapi kenapa harapĀ selalu membayangi
Dimana akal sehat ini berputar
Dimana logika ini bergerak
Semua seakan mati tak berpendar
Bagai seonggok organ tak berfungsi
Benci akan rasa bimbang
Benci akan pikiran lemah
Benci akan tetesan airmata
Tapi kenapa…
Kenapa hanya bisa benci kenaifan
kenapa hanya bisa memaki kebodohan
kenapa hanya kegamangan jiwa yang tertindas
Kenapa bukan diri hina yang ku benci
Kenapa bukan hati busuk yang ku maki
Sedangkan kau tahu
Diri angkuh mu yang membunuh jiwa
Kesombonganmu seakan biarkan ku mati
Jkt, 30 Juni 2008